Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Monday, September 10, 2018

PESONA BUKIK SINGOK KAPUR IX


Oleh : Dayendra Sasri

Bukik Singok
Bukik Singok adalah salah satu objek wisata terbaru di Kecamatan Kapur IX, Kabupaten 50 Kota, Provinsi Sumatera Barat. Dari atas bukit ini kita bisa menikmati keindahan Kecamatan Kapur IX yang begitu menakjubkan apalagi pada pagi hari sebelum mata hari muncul. Kita disana bisa menyaksikan kabut yang masih tebal dan terbias oleh cahaya mentari pagi sehingga menghasilkan pemandangan nan indah dan memukau.

Suasana di puncak bukik singok saat pagi hari


Suasana siang hari di bukik singok
Sebenarnya di Kecamatan Kapur IX, puncak bukit yang memiliki pemandangan bagus tidak hanya berada di  Bukit Singok yang berada di Nagari Durian Tinggi, Tetapi ada juga puncak Bukit Pondam yang masih berada di Nagari Durian Tinggi, Puncak Tanjung Bungo yang berada di Nagari Koto Lamo dan Puncak Kayu Sabatang yang berada di Nagari Sialang yang tidak kalah memukaunya. Selain itu Kapur IX juga terkenal dengan wisata air terjunnya yang bernama Lubuak Batang dan kearifan lokal didalam menangkap ikan yang bernama Salu dan wisata lubuk larangannya.

Puncak bukik pondam
Suasana pagi di puncak tanjung bungo

Suasana puncak kayu sabatang
Jika kita berkunjung kesana memang tidak sama pelayanannya seperti wisata lainnya yang sudah terkoordinir karena di Kapur IX tentang perihal wisata belum terlalu menjadi perhatian oleh pihak pemerintah sehingga pengelolahannya masih sebatas pemuda nagari yang bersangkutan.

Jika pembaca ada yang tertarik untuk berwisata ke puncak bukit singok, penulis ada sedikit saran. Usahakan untuk datang kesana pada saat cuaca cerah dan naik ke atas pada saat subuh setelah sholat subuh dan jangan lupa menggunakan jaket agar tidak terlalu dingin ketika sampai di puncak. Karena pemandangan yang bagus hanya pada pagi hari saat kabut masih menutupi sebagian wilayah Kapur IX.

Untuk pergi ke puncak bukit singok kita bisa menggunakan sepeda motor dan berjalan sekitar 10 menit untuk sampai ke puncak dan kita cukup membayar Rp. 8.000 dengan rincian Rp. 5.000 untuk parkir motor dan Rp. 3.000 untuk kebersihan. Selain itu karena kita mau berwisata kesana untuk melihat keasrian alam disarankan agar tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga alam khususnya di lokasi wisata tersebut.

Nib : Foto diambil dari berbagai media sosial.
Kritik dan Saran silahkan kirim ke dayendrasasri@gmail.com 

Saturday, December 23, 2017

'SALU' Alat Tradisional Jebakan Ikan di Kecamatan Kapur IX


Oleh : Dayendra Sasri

Ikan merupakan sumber makanan yang memiliki banyak manfaat baik bagi kesehatan manusia, dari konsumsi ikan kita akan mendapatkan protein yang kadarnya sangat tinggi. Hal ini tentu merupakan kesempatan baik karena sebagai negeri tropis yang kaya perairan baik air tawar ataupun air laut. Tentu kita memiliki peluang lebih dalam mendapatkan ikan.

'Salu' yaitu alat penangkap ikan tradisional


Di kota-kota besar bisa jadi kita akan kesulitan mencari lahan yang banyak ikannya, dan karenanya hanya sebatas di pusat-pusat belanja ataupun pasar-pasar tradisional kita akan mendapatkannya. Namun tak jauh dari kota, di pinggiran kota misalnya, maka akan dengan mudah menemukan empang, selokan, kolam, dan lahan ikan bisa hidup.

Berkaitan dengan tak terbatasnya kehidupan ikan ini, tentu tak terbatas pula metode penangkapannya. Dan tak akan selalu sama cara penangkapan pada tiap daerah. Cara menangkap ikan dengan menjala dan memancing bisa jadi masih bisa dikategorikan sebagai metode yang sama antara tempat yang satu dengan tempat lainnya.
Warga yang sedang membuat salu
Namun, di Kecamatan Kapur IX ada metode unik didalam menangkap ikan, bukan menggunakan teknologi terkini namun hanya dengan menggunakan bahan alami dan sangat ramah lingkungan. Alat penangkap ikan tersebut dinamai ‘SALU’ atau singkatan dari ‘Saluran’ yaitu sebuah alat tradisional warga masyarakat Kecamatan Kapur IX yang digunakan untuk menjebak ikan. Jika dilihat dari bahannya, Salu di Kecamatan Kapur IX ini hanya terbuat dari kayu, bambu, tali, dan paku. Yang terbentuk berupa sudut lancip seperti huruf (V) yang menutupi aliran sungai dan pada bagian ujung lancipnya tersebut terdapat anyaman bambu yang berfungsi untuk menjebak ikan jika ikan melewati aliran salu tersebut.
Warga yang sedang membuat salu
Masyarakat Kecamatan Kapur IX yang biasa membuat salu biasanya akan memerlukan waktu selama dua sampai empat minggu, tergantung ukuran salu dan jarak salu tersebut dari perkampungan. Kegiatan tersebut berupa mempersiapkan bahan dan alat berupa kayu dan bambu. Kayu berguna untuk ‘Lantak’ atau tiang dasar salu untuk digunakan sebagai bahan penahan aliran sungai dan bambu untuk bagian ujung lancip yang berguna untuk menjebak ikan.

Warga yang sedang membuat salu
Dalam pemasangan salu ini, pada bagian mulut salu yang terbuka dan terendam air, ditata bebatuan guna memusatkan aliran air sungai. Sehingga arus sungai yang kemungkinan besar membawa ikan itu bisa masuk dalam mulut salu. Di kondisi inilah ikan akan terjebak, dan tidak bisa kembali ke arus yang datang sangat deras. Selanjutnya ikan justru akan terdorong menuju bagian yang lebih tinggi, dan secara otomatis akan keluar dari sela belahan bambu yang telah disusun tadi.

Meskipun salu ini terlihat sangat tradisional namun memerlukan keahlian khusus didalam pembuatannya karena penerapan penggunaan metode penangkapan ini termasuk berbahaya dan membutuhkan keahlian khusus, karena salu hanya akan mendapatkan ikan jika air sungai meluap jadi pada saat sungai dalam kondisi normal biasanya hasil tangkapan sangat sedikit bahkan tidak ada. Di Kecamatan Kapur IX sendiri tidak banyak warga masyarakat yang memiliki kemampuan pembuatan salu ini, hanya orang tertentu saja yang bisa menerapkannya karena resikonya tadi. Didalam pembuatan salu juga tidak dikelolah sendiri, biasanya dibuat secara kongsi atau lebih dari satu orang/pihak karena pembuatan salu ini lumayan membutuhkan tenaga dan waktu dalam pembuatannya.

Ikan salimang tangkapan dari salu

Ikan gariang tangkapan dari salu

Ada hal unik dalam metode ini yaitu masyarakat percaya bahwa ikan hasil tangkapan pertama harus di lemparkan di tepi sungai agar ‘inyiak’ sebutan hariamu bagi masyarakat minangkabau memakannya karena jika tidak inyiak tersebut bisa mengancam orang-orang yang sedang berada pada salu tersebut. Terlepas dari itu semua bisa percaya bisa tidak namun itulah kenyataan kearifan lokal disana. Kemudian ikan hasil tangkapan yang diperoleh biasanya hanya dibagi dengan jumlah anggota yang menjaga salu tersebut dan jika hasil tangkapan lumayan banyak ada juga yang menjual ikan hasil tangkapan tersebut.

Hal unik lainnya adalah pada saat air sungai membesar itu tandanya pemilik/ pengelolah salu akan turun ke sungai untuk menuju bagian mulut salu betujuan untuk memanen ikan yang terjebak disana, tanda-tanda salu itu masih aman dinaiki pada saat air sedang naik adalah ketika salu tersebut masih bergoyang-goyang karena arus sungai karena jika salu tersebut tidak lagi bergoyang itu pertanda bahwa bagian lantak/ atau kayu pondasi salu sudah tidak kuat lagi dan sewaktu-waktu bisa hanyut terbawa arus sungai.

Saat tim "jejak petualang Trans 7" melakukan peliputan di atas Salu



Saat tim "jejak petualang Trans 7" melakukan peliputan di atas Salu

Meskipun metode menangkap ikan tersebut sangat ramah lingkungan namun sekarang sudah mulai jarang ditemukan di Kecamatan Kapur IX, tidak semua nagari disana yang bisa membuat salu, hanya beberapa nagari saja yang sampai sekarang menerapkan metode tersebut. Kita berharap agar warga masyarakat selalu menjaga warisan unik tersebut dan jangan sampai hilang ditelan zaman.

Saturday, December 2, 2017

BATU BERSURAT DI KAPUR IX INI MASIH MENYIMPAN MISTERI

Seperti yang diulas pada artikel sebelumnya, Kecamatan Kapur IX memang menyimpan sejuta pesona (disini) yang masih tersimpan dengan apik dan masih menjadi misteri hingga kini. Mulai dari peninggalan perkembangan islam (disini) yang sudah ada sejak dahulu sampai peninggalan purbakalanya (disini) ada di kecamatan yang berada paling ujung utara Kabupaten 50 Kota yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau.



Mungkin keberadaan batu bersurat yang berada di simpang batu sompik yang terletak di antara Jorong Mongan dengan Jorong Gelugur tidak hal asing lagi bagi masyarakat Kecamatan Kapur IX. Namun kemaren Jum'at (30/11) Andri Yasmen, yaitu Camat Kecamatan Kapur IX kembali mengupload foto batu bersurat tersebut di media sosial facebooknya.

Hal ini kembali menyegarkan wacana kita akan kayanya kecamatan ini akan masa lalunya. Batu bersurat yang tertulis 9 Mei 1887 tersebut sampai sekarang tidak ada seorang pun dari masyarakat yang mengetahui akan makna dan tujuan penulisan tanggal pada batu tersebut. Ada sebagian masyarakat yang berada di sekitar wilayah batu tersebut beranggapan bahwa tanggal tersebut ada kaitannya dengan nama salah satu jorong di perkampungan yang belum tersentuh aliran listrik tersebut juga mengarah pada salah satu jenis kekayaan alam. Jorong Mongan, menurut warga mengarah pada Mangan yang terkandung dalam perut bumi.

Tulisan pada batu bersurat

Namun itu bukanlah pasti karena belum ada penelitian yang dilakukan pada batu bersurat tersebut, hal tersebut hanya perkiraan dari warga masyarakat yang berada di sekitar wilayah tersebut. Andri Yasmen mengungkapkan lagi "Tulisan pada batu yang diukir menggunakan benda keras tersebut menimbulkan tanda tanya besar, sepertinya perlu juga menjadi bahan penelitian untuk menggali kisah di balik tulisan ini". Bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan Kapur IX, Andri Yasmen tertarik dengan tulisan di batu tersebut. "Tentu kita tidak bisa mengetahui apa sejarah di baliknya, tanpa adanya penelitian dari ahli di bidangnya" terang Andri Yasmen bersama Wakapolsek Kapur IX, Iptu Muchri Sawir kemarin. Sebab, bisa saja seseorang iseng menulisnya dan memundurkan tahunnya. Tertulis pada batu 9 Mei 1887 dengan coretan lain di bawahnya. Namun coretan lain tersebut sulit untuk dibaca.

Source :
- Linimasa Facebook Andri Yasmen
- Merdeka.com

Tuesday, May 9, 2017

CANDI KOTO GILINGAN DI KECAMATAN KAPUR IX

Oleh : Dayendra Sasri
Ilustrasi penemuan candi

Setiap daerah memiliki ciri khas dan sejarah tersendiri, namun tidak sedikit daerah yang seakan melupakan dan membiarkan warisan sejarah tersebut hilang. Maka jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan, daerah akan terlihat matang apabila dilihat dari pendahulunya. Warisan sejarah memang sangat membosan kan untuk dikaji, namun penuh kejutan jika kita mau mendalami dan menelusuri.

Di Kecamatan Kapur IX selain masih asri dengan bentang alamnya wisata kapur ix juga mengandung situs bersejarah. Tidak banyak yang mengetahui, bahkan pribumi sendiri sangat miskin akan informasi tersebut. Lokasi situs tersebut berada di Kenagarian Durian Tinggi Kecamatan Kapur IX dan situs tersebut berupa candi, yang sekarang hanya tinggal tapak/ pondasi.


Saturday, May 6, 2017

MENYINGKAP PESONA KECAMATAN KAPUR IX

Oleh : Dayendra Sasri

Bagi kamu yang tidak berada di Kabupaten 50 Kota mungkin sangat asing dengan Kecamatan Kapur IX. Kecamatan Kapur IX adalah salah satu kecamatan di Kabupaten 50 Kota dan berada paling ujung Kabupaten 50 Kota dan Provinsi Sumatera Barat. Kecamatan Kapur IX berbatasan langsung dengan Provinsi Riau. Selain itu, Kecamatan Kapur IX tidak berada di jalur lintas (SUMBAR-RIAU) makanya kecamatan ini tidak se-eksis Kecamatan Pangkalan Koto Baru yang berada di jalur lintas.

Tugu Gambir di Kecamatan Kapur IX
Namun dibalik itu semua, ternyata Kecamatan Kapur IX memiliki banyak spot-spot nan indah karena sebagian besar daerahnya masih alami. Jika dilihat Kecamatan Kapur IX memiliki topografi perbukitan dan memiliki banyak anak sungai, makanya nama Kapur IX diambil dari adanya sembilan anak sungai yang terdapat di kecamatan tersebut.